
FTZ akan bermanfaat bagi masyarakat Kepri manakala mampu mengakomodir kepentingan masyarakat lokal. Jika tidak kesannya seperti Singapura memanfaatkan Indonesia menjadi lahan bisnis
PK-Sejahtera Online: Dijadikannya Batam, Bintan dan Karimun (BBK) sebagai Kawasan Perdagangan Bebas (Free Trade Zone) perlu disikapi secara arif. Pasalnya, jika tidak, maka justru akan mengancam potensi ekonomi dan budaya lokal
Hal ini dikatakan oleh Presiden PKS, Tifatul Sembiring menjawab pertanyaan para wartawan terkait perberlakuan FTZ di BBK saat kunjungannya di Harian Tribun Batam selepas menjadi khatib Jum’at (6/2) di Masjid Raya Batam
Walaupun secara global menyepakati, namun Tifatul mengingatkan, agar keberlangsungan FTZ tidak hanya sekedar menguntungkan para investor. Tifatul menyarankan pemerintah pusat sebelum mengeluarkan petunjuk pelaksanaan perlu menganalisa secara komprehensif, terutama sisi lokal harus diperhatikan.
”Untuk itu agar komprehensif, pemerintah perlu model helicopter view”, terangnya. Presiden PKS ini khawatir, jika FTZ tidak disiapkan dengan baik, bukan keberuntungan yang diraih, namun malah kebuntungan. ”Intinya FTZ harus yang lebih banyak mendapat keuntungan buat rakyat”, tegasnya
Dia menambahkan, FTZ akan bermanfaat bagi masyarakat Kepri manakala mampu mengakomodir kepentingan masyarakat lokal. Jika tidak kesannya seperti Singapura memanfaatkan Indonesia menjadi lahan bisnis
Senada dengan Tifatul, Raden Hari Tjahyono mengungkapkan perberlakuan FTZ harus memberi kemanfaatan yang banyak bagi masyarakat. Selain itu Calon Anggota DPD RI yang mendapat dukungan penuh dari PKS ini kemudian mengingatkan agar masyarakat melayu harus menjadi tuan di negeri sendiri.
”Saya tidak percaya, bahwa orang melayu tidak bisa maju, buktinya Malaysia bisa!”, terangnya lugas di hadapan 500 undangan dalam sambutannya dalam dialog lintas tokoh bertajuk ”Bersama Membangun Negeri” di Hotel Comfort, Tanjungpinang pada Jum’at malam (6/2)
Raden Hari pantas untuk mewanti-wanti, pasalnya sebagai buruh dia paham, bahwa tabiat investor itu selalu menginginkan keuntungan yang maksimal. Apalagi akibat mengalami tarik ulur, perberlakuan FTZ yang berbarengan dengan krisis global ini diakuinya secara ekonomi tidak berada dalam momentum ideal. (isy)
Selengkapnya>>>......