Minggu, 28 Desember 2008

Beda Gaya ''Santri'' PM Erdogan-Presiden Gul



AK Parti tetap tak lepas dari citra Islam taat. Itu tak lepas dari figur Recep Tayyip Erdogan, ketuanya. Erdogan memang tak menutup-nutupi ketaatannya pada Islam. Di situs resmi AK Parti, dia menyebut dirinya demokrat konservatif. Erdogan sendiri dianggap sudah banyak melunak.

Erdogan pernah menjadi orator protes ketika ''partai Islam'', Partai Kesejahteraan (Refah Partisi), dilarang pada 1998. Dia pernah masuk penjara tiga bulan karena dituduh menyebarkan kebencian agama di negara penganut sekulerisme (laicite) itu. Sebelum jadi PM, tokoh kelahiran 26 Februari 1954 tersebut sukses besar menjadi wali kota Istanbul, kota terbesar di Turki dengan penduduk 20 juta jiwa. Jejaknya di sana diabadikan lewat kereta metro RTE, singkatan namanya.

Kegigihan Erdogan dalam mengamalkan Islam pernah membuatnya pingsan. Saat kerja keras pada bulan puasa, dia pingsan. Ketika bergegas dimasukkan mobil antipeluru, ternyata, sesampai di RS baru ketahuan kuncinya hilang. Sampai-sampai, petugas meminjam martil besar dari proyek untuk memecahkan kaca.

Abdullah Gul, presiden Turki, juga sangat ''santri''. Pembesar kelahiran 29 Oktober 1950 itu pernah menjadi anggota parlemen dari Partai Refah yang kemudian dilarang. Bahkan, pada 1999 dia jadi anggota parlemen dari Fazilet Partisi (Partai Kebajikan) yang kemudian juga dibubarkan MK. Sejak muda, dia memang dikenal sebagai aktivis gerakan Islam.

Ketika menjadi pejabat publik, istri Gul maupun Erdogan menarik perhatian. Hayrunnisa Gul berjilbab rapat, begitu juga Ermine Erdogan. Sampai-sampai, keduanya tak diikutkan ketika ada acara resmi karena perempuan berjilbab dilarang di perkantoran negara (juga sekolah). Karena itu, kata seorang diplomat, bila ada tamu negara, perjamuan diadakan di kediaman dua pemimpin tersebut agar istri mereka bisa ikut.

Sebelum menjabat presiden, Gul memegang posisi Menlu. Dia juga pernah duduk di posisi PM secara singkat pada November 2002. Gul minggir ketika Erdogan dipastikan boleh secara hukum menduduki posisi PM.

Pemilihan Gul sebagai presiden juga rumit. Komitmennya pada sekularisme diragukan. Dia sempat menarik diri dari pencalonan, tapi enam hari kemudian maju lagi. Setelah tiga kali voting, dia terpilih mayoritas pada 28 Agustus 2007.

Pelantikannya diboikot para kepala staf militer Turki. Militer memang dianggap sebagai penjaga sekularisme. Istri Gul, Hayrunnisa, juga tak bisa hadir karena mengenakan jilbab.

Gul yang murah senyum khas diplomat itu menampilkan citra moderat. Ketika puasa lalu berkunjung ke New York, di televisi dia terlihat minum segelas air saat siang. Dia memang punya kelonggaran sebagai musafir untuk tak puasa.

sumber :Jawa Pos

Tidak ada komentar: